SEJARAH
KOLAM RENANG TELAGA PUTRI
1.
Pendahluhuan
Disuatu pagi, mentari bersinar dengan cerahnya menerangi
bumi pertiwi pertanda bahwa hari mulai siang. Burung mulai berkicau, ayam dan
binatang peliaraan masyarakatpun mulai ramai menyanyikan suara khasnya masing-masing.
Itulah gamnbaran situasi pagi yang ceria di Lampung.
Lampung adalah
sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, Indonesia. Di
sebelah utara berbatasan dengan Bengkulu and Sumatera Selatan.
Provinsi Lampung dengan ibukota Bandar
Lampung yang merupakan gabungan dari kota kembar Tanjungkarang dan Telukbetung memiliki wilayah yang
relatif luas, dan menyimpan potensi kelautan. Pelabuhan utamanya bernama
Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni serta
pelabuhan nelayan seperti Pasar Ikan (Telukbetung), Tarahan, dan Kalianda di
Teluk Lampung.
Sedangkan di Teluk Semaka adalah Kota Agung (Kabupaten Tanggamus), dan di
Laut Jawa terdapat pula pelabuhan nelayan seperti Labuhan Maringgai dan
Ketapang. Di samping itu, Kota Menggala juga dapat dikunjungi kapal-kapal
nelayan dengan menyusuri sungai Way Tulang Bawang, adapun di Samudra Indonesia
terdapat Pelabuhan Krui.
Lapangan terbang utamanya adalah "Radin Inten II", yaitu nama baru dari
"Branti", 28 Km dari Ibukota melalui jalan negara menuju Kotabumi,
dan Lapangan terbang AURI terdapat di Menggala yang bernama Astra Ksetra.
Secara Geografis Provinsi Lampung terletak pada kedudukan : Timur - Barat
berada antara : 103º 40' - 105º 50' Bujur Timur Utara - Selatan berada
antara : 6º 45' - 3º 45' Lintang Selatan.
Provinsi Lampung lahir pada
tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964
yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi
Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi
Sumatera Selatan.
Kendatipun Provinsi Lampung
sebelum tanggal 18 maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan
bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia
merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna
kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adat budaya di Nusantara
yang tercinta ini.
Lampung pernah menjadi wilayah
kekuasaan Kerajaan
Tarumanagara
dan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16.
Waktu Kesultanan Banten menghancurkan Pajajaran, ibu kota Kerajaan
Sunda maka Hasanuddin, sultan Banten yang pertama, mewarisi wilayah tersebut
dari Kerajaan Sunda. Hal ini dijelaskan dalam buku The Sultanate of Banten
tulisan Claude Guillot pada halaman 19 sebagai berikut: From the beginning it
was abviously Hasanuddin's intention to revive the fortunes of the ancient
kingdom of Pajajaran for his own benefit. One of his earliest decisions was to
travel to southern Sumatra, which in all likelihood already belonged to
Pajajaran, and from which came bulk of the pepper sold in the Sundanese region.[2]
Tatkala Banten dibawah pimpinan
Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683) Banten berhasil menjadi pusat perdagangan
yang dapat menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Sultan Ageng ini
dalam upaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten mendapat hambatan karena
dihalang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Ageng Tirtayasa
yang bernama Sultan Haji diserahi tugas untuk menggantikan kedudukan mahkota
kesultanan Banten.
Dengan kejayaan Sultan Banten
pada saat itu tentu saja tidak menyenangkan VOC, oleh karenanya VOC selalu
berusaha untuk menguasai kesultanan Banten. Usaha VOC ini berhasil dengan jalan
membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Agung
Tirtayasa. Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta
bantuan VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan atas
daerah Lampung kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Ageng
Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten.
Dari perundingan-perundingan
antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji
tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat
itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah Lampung diserahkan oleh
Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus memperoleh monopoli perdagangan di daerah
Lampung.
Pada tanggal 29 Agustus 1682
iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada ini
dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji dan ia
mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini ternyata tidak
berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yang dicari-carinya. Agaknya perdagangan
langsung antara VOC dengan Lampung yang dirintisnya mengalami kegagalan, karena
ternyata tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk begitu saja kepada
kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni, tetapi banyak yang masih
mengakui Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni
tetap sebagai musuh.
Sementara itu timbul
keragu-raguan dari VOC apakah benar Lampung berada dibawah Kekuasaan Sultan
Banten, kemudian baru diketahui bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidak
mutlak.
Penempatan wakil-wakil Sultan
Banten di Lampung yang disebut "Jenang" atau kadang-kadang disebut
Gubernur hanyalah dalam mengurus kepentingan perdagangan hasil bumi (lada).
Sedangkan penguasa-penguasa
Lampung asli yang terpencar-pencar pada tiap-tiap desa atau kota yang disebut
"Adipati" secara hirarkis tidak berada dibawah koordinasi penguasaan
Jenang/ Gubernur. Jadi penguasaan Sultan Banten atas Lampung adalah dalam hal
garis pantai saja dalam rangka menguasai monopoli arus keluarnya hasil-hasil
bumi terutama lada, dengan demikian jelas hubungan Banten-Lampung adalah dalam
hubungan saling membutuhkan satu dengan lainnya.
Selanjutnya pada masa Raffles berkuasa
pada tahun 1811 ia menduduki daerah Semangka dan tidak mau melepaskan daerah
Lampung kepada Belanda karena Raffles beranggapan bahwa Lampung bukanlah
jajahan Belanda. Namun setelah Raffles meninggalkan Lampung baru kemudian tahun
1829 ditunjuk Residen Belanda untuk Lampung.
Dalam pada itu sejak tahun 1817
posisi Radin Inten semakin kuat, dan oleh karena itu Belanda merasa khawatir
dan mengirimkan ekspedisi kecil dipimpin oleh Assisten Residen Krusemen yang
menghasilkan persetujuan bahwa :
ü Radin
Inten memperoleh bantuan keuangan dari Belanda sebesar f. 1.200 setahun.
ü Kedua
saudara Radin Inten masing-masing akan memperoleh bantuan pula sebesar f. 600
tiap tahun.
ü Radin
Inten tidak diperkenankan meluaskan lagi wilayah selain dari desa-desa yang
sampai saat itu berada dibawah pengaruhnya.
Tetapi persetujuan itu tidak
pernah dipatuhi oleh Radin Inten dan ia tetap melakukan perlawanan-perlawanan
terhadap Belanda.
Oleh karena itu pada tahun 1825
Belanda memerintahkan Leliever untuk menangkap Radin Inten, namun dengan cerdik
Radin Inten dapat menyerbu benteng Belanda dan membunuh Liliever dan anak
buahnya. Akan tetapi karena pada saat itu Belanda sedang menghadapi perang
Diponegoro (1825 - 1830), maka Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap
peristiwa itu. Tahun 1825 Radin Inten meninggal dunia dan digantikan oleh
Putranya Radin Imba Kusuma.
Setelah Perang Diponegoro
selesai pada tahun 1830 Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma di daerah Semangka,
kemudian pada tahun 1833 Belanda menyerbu benteng Radin Imba Kusuma, tetapi
tidak berhasil mendudukinya. Baru pada tahun 1834 setelah Asisten Residen
diganti oleh perwira militer Belanda dan dengan kekuasaan penuh, maka Benteng
Radin Imba Kusuma berhasil dikuasai.
Radin Imba Kusuma menyingkir ke
daerah Lingga, namun penduduk daerah Lingga ini menangkapnya dan menyerahkan
kepada Belanda. Radin Imba Kusuma kemudian di buang ke Pulau Timor.
Dalam pada itu rakyat
dipedalaman tetap melakukan perlawanan, "Jalan Halus" dari Belanda
dengan memberikan hadiah-hadiah kepada pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat
Lampung ternyata tidak membawa hasil. Belanda tetap merasa tidak aman, sehingga
Belanda membentuk tentara sewaan yang terdiri dari orang-orang Lampung sendiri
untuk melindungi kepentingan-kepentingan Belanda di daerah Telukbetung dan
sekitarnya. Perlawanan rakyat yang digerakkan oleh putra Radin Imba Kusuma
sendiri yang bernama Radin Inten II tetap berlangsung terus, sampai akhirnya
Radin Inten II ini ditangkap dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang
khusus didatangkan dari Batavia.
Sejak itu Belanda mulai leluasa
menancapkan kakinya di daerah Lampung. Perkebunan mulai dikembangkan yaitu
penanaman kaitsyuk, tembakau, kopi, karet dan kelapa sawit. Untuk
kepentingan-kepentingan pengangkutan hasil-hasil perkebunan itu maka tahun 1913
dibangun jalan kereta api dari Telukbetung menuju Palembang.
Hingga menjelang Indonesia
merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan periode perjuangan fisik setelah itu, putra
Lampung tidak ketinggalan ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangan
melawan penindasan penjajah yang silih berganti. Sehingga pada akhirnya sebagai
mana dikemukakan pada awal uraian ini pada tahun 1964 Keresidenan Lampung
ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat I Provinsi Lampung.
Kejayaan Lampung sebagai sumber
lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga tercipta lagu Tanoh Lada.
Bahkan, ketika Lampung diresmikan menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada
hitam menjadi salah satu bagian lambang daerah itu. Namun, sayang saat ini
kejayaan tersebut telah pudar.
Geografi
Provinsi Lampung memiliki luas
35.376,50 km² dan terletak di antara 105°45'-103°48' BT dan 3°45'-6°45'
LS. Daerah ini di sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda dan di sebelah
timur dengan Laut Jawa. Beberapa pulau
termasuk dalam wilayah Provinsi Lampung, yang sebagian besar terletak di Teluk
Lampung, di antaranya: Pulau Darot, Pulau Legundi, Pulau Tegal, Pulau Sebuku,
Pulau Ketagian, Pulau Sebesi, Pulau Poahawang, Pulau Krakatau, Pulau Putus dan
Pulau Tabuan. Ada juga Pulau Tampang dan Pulau Pisang di yang masuk ke wilayah Kabupaten Lampung
Barat.
Keadaan alam Lampung, di
sebelah barat dan selatan, di sepanjang pantai merupakan daerah yang
berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Di tengah-tengah
merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai di sebelah timur, di
sepanjang tepi Laut Jawa terus ke utara, merupakan perairan yang luas.
Gunung
Gunung-gunung yang puncaknya
cukup tinggi, antara lain:
Eksplorasi gunung
Gunung-gunung lampung memang
tak setinggi gunung-gunung di pulau jawa, tetapi memili kesulitan yang cukup
tinggi untuk mendakinya, karena memiliki tingkat kerapatan yang tinggi pula.
Mahasiswa pecinta alam universitas lampung (MAPALA UNILA)adalah salah satu
organisasi yang sering melakukan penelitian,pendataan dan eksplorasi
gunung-gunung di lampung yang masih perawan dan belum terjamah oleh tangan
manusia. selain gunung, MAPALA UNILA juga telah banyak melakukan eksplorasi
seperti goa didaerah lampung barat(krui), penyu, tebing, sungai, pantai,
pulau-pulau disekitar lampung, daerah-daerah terpencil DLL yang ada didaerah
lampung.
Sungai
Sungai-sungai yang mengalir di
daerah Lampung menurut panjang dan cathment area (c.a)-nya adalah:
Way Sekampung mengalir di
daerah kabupaten Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran dan Lampung Selatan. Anak
sungainya banyak, tetapi tidak ada yang panjangnya sampai 100 km. Hanya
ada satu sungai yang panjangnya 51 km dengan c.a. 106,97 km2 ialah Way
Ketibung di Kalianda.
Way Seputih mengalir di daerah
kabupaten Lampung Tengah dengan anak-anak sungai yang panjangnya lebih dari
50 km adalah:
Way Tulangbawang mengalir di
kabupaten Tulangbawang dengan anak-anak sungai yang lebih dari 50 km
panjangnya, di antaranya:
Way Mesuji yang mengalir di
perbatasan provinsi Lampung dan Sumatera Selatan di sebelah utara mempunyai
anak sungai bernama Sungai Buaya, sepanjang 70 km dengan c.a. 347,5 km2.
Hutan-hutan besar di dataran
rendah dapat dikatakan sudah habis dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan
pertanian, untuk para transmigran yang terus-menerus memasuki daerah ini.
Kayu-kayu hasil hutan diekspor ke luar negeri. Hutan-hutan yang masih ada, yang
tanahnya dapat dikatakan belum banyak dibuka sebagian besar terletak di sebelah
barat, di daerah Bukit Barisan Selatan.
Beberapa kota di daerah
provinsi Lampung yang tingginya 50 m lebih dari permukaan laut adalah:
Tanjungkarang (96 m), Kedaton (100 m), Metro (53), Gisting (480 m), Negeri
sakti (100 m), Pringsewu (50 m), Pekalongan (50 m), Batanghari (65 m), Punggur
(50 m), Padang ratu (56 m), Wonosobo (50 m), Kedondong (80 m), Sidomulyo (75
m), Kasui (200 m), Sri Menanti (320 m) dan Kota Liwa (850 m).
Ekonomi
Masyarakat pesisir lampung
kebanyakan nelayan, dan bercocok tanam. Sedangkan masyarakat tengah kebanyakan
berkebun lada, kopi, cengkeh, kayu manis dll.
Lampung fokus pada pengembangan
lahan bagi perkebunan besar seperti kelapa sawit, karet, padi, singkong, kakao,
lada hitam, kopi, jagung, tebu dll. Dan di beberapa daerah pesisir, komoditas
perikanan seperti tambak udang lebih menonjol, bahkan untuk tingkat nasional
dan internasional. Selain hasil bumi Lampung juga merupakan kota pelabuhan
karena lampung adalah pintu gerbang untuk masuk ke pulau sumatra. dari hasil
bumi yang melimpah tumbuhlah banyak industri-industri seperti di daerah pesisir
panjang, daerah natar, tanjung bintang, bandar jaya dll
Kota-kota penting di Provinsi
Lampung adalah :
·
Metro
·
Kotabumi
Pariwisata
Tahun 2009 Pemerintah Provinsi
Lampung mencanangkan tahun kunjungan wisata. Jenis Wisata yang dapat dikunjungi
di Lampung adalah Wisata Budaya di beberapa Kampung Tua di Sukau, Liwa,
Kembahang, Batu Brak, Kenali, Ranau dan Krui di Lampung Barat serta Festival
Sekura yang diadakan dalam seminggu setelah Idul Fitri di Lampung Barat,
Festival Krakatau di Bandar Lampung, Festival Teluk Stabas di Lampung Barat,
Festival Teluk Semaka di Tanggamus, dan Festival Way Kambas di Lampung Timur.
Transportasi
Untuk mengakses Provinsi
Lampung, dari arah Aceh dapat menggunakan jalur darat melalui jalan lintas tengah
Sumatera, Jalan Lintas Timur Sumatera, dan Jalan Lintas Barat Sumatera. Atau
bisa menggunakan jalur udara, melalui Bandar
Udara Radin Inten II.
Juga untuk jalur laut bisa menggunakan Pelabuhan Bakauheni. Kondisi seluruh
jalan akses menuju Lampung dalam kondisi baik. Untuk jalan lintas Sumatera
(status jalan nasional), seringkali mengalami kerusakan akibat beban jalan yang
tinggi karena dilintasi oleh kendaraan barang dari seluruh daerah.
Industri
Sebagai gerbang Sumatera, di
Lampung sangat potensial berkembang berbagai jenis industri. Mulai dari
industri kecil (kerajinan) hingga industri besar, terutama di bidang
agrobisnis.
Industri penambakan udang
termasuk salah satu tambak yang terbesar di dunia setelah adanya penggabungan
usaha antara Bratasena, Dipasena dan Wachyuni Mandira.
Terdapat juga pabrik gula
dengan produksi per tahun mencapai 600.000 ton oleh 2 pabrik yaitu Gunung Madu
Plantation dan Sugar Group. pada tahun 2007 kembali diresmikan pembangunan 1
pabrik gula lagi dibawah PT. Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) yang diproyeksikan
akan mulai produksi pada tahun 2008.
Industri agribisnis lainnya:
ketela (ubi), kelapa sawit, k0pi robusta, lada, coklat, kakao, nata de coco
dan lain-lain.
Tapis Lampung
Kain Tapis adalah pakaian
wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas
dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan
sistem sulam (Lampung; "Cucuk").
Dengan demikian yang dimaksud
dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak
atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini
biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat
dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam
dengan benang emas dan benang perak.
Tapis Lampung termasuk kerajian
tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan
motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan
ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli)
yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi
tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi
oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi
yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Demografi
Bahasa
Masyarakat Lampung yang plural
menggunakan berbagai bahasa, antara lain: bahasa Indonesia, bahasa
Jawa,
bahasa
Sunda,
bahasa
Bali,
bahasa
Minang
dan bahasa setempat yang disebut bahasa Lampung. (antoncahlampung, Wikipedia dan dari berbagai sumber).
Daftar gubernur
|
No
|
Foto
|
Nama
|
Mulai Jabatan
|
Akhir Jabatan
|
Keterangan
|
Wakil Gubenur
|
|
1.
|
1966
|
Nadirsyah
Zaini
(1966) |
||||
|
—
|
Juli
1966
|
April
1967
|
Pejabat
Gubernur
|
|||
|
2
|
5April
1967
|
5April
1972
|
Gubernur
Definitif
|
|||
|
—
|
1972
|
1973
|
Pejabat
Gubernur
|
|||
|
3
|
1978
|
|
||||
|
4
|
1988
|
|
A.Subki
Harun
(1984-1988) |
|||
|
5
|
1993
|
Masajabatan
Periode 1
|
ManHasan
(1989-1993) |
|||
|
1997
|
Masajabatan
Periode 2
|
|||||
|
—
|
1Okto
1997
|
5
Februari 1998
|
||||
|
6
|
5 Feb 1998
|
5
Februari 2003
|
|
Lowong
|
||
|
—
|
Tursandi
Alwi
(Pejabat) |
2
Juni 2004
|
Pejabat
Gubernur
|
|||
|
7
|
2
Juli 2008
|
Masa
jabatan Periode 1
|
||||
|
—
|
Syamsurya Ryacudu
(Pejabat) |
Pejabat
Gubernur
|
Lowong
|
|||
|
(7)
|
Masa
jabatan Periode 2
|
|||||
|
8.
|
Sekarang
|
Seni dan budaya
Sastra
Lampung
menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan sastra, baik sastra
(berbahasa) Indonesia maupun sastra
(berbahasa) Lampung. Kehidupan sastra (Indonesia) di Lampung dapat dikatakan
sangat ingar-bingar meskipun usia dunia kesusastraan Lampung relatif masih
muda. Penyair Iwan Nurdaya-Djafar yang baru kembali
ke Lampung setelah selesai kuliah di Bandung sekitar 1980-an
mengaku kepenyairan di Lampung masih sepi. Dia baru menjumpai Isbedy
Stiawan ZS,
A.M.
Zulqornain,
Sugandhi
Putra,
Djuhardi
Basri,
Naim Emel Prahana dan beberapa nama
lainnya.
Barulah
memasuki 1990-an kemudian Lampung mulai semarak dengan penyair-penyair seperti Iswadi
Pratama,
Budi
P. Hatees,
Panji
Utama,
Udo
Z. Karzi,
Ahmad Yulden Erwin, Christian Heru Cahyo dan lain-lain.
Menyusul kemudian Ari Pahala Hutabarat, Budi
Elpiji,
Rifian
A. Chepy,
Dahta
Gautama
dkk. Kini ada Dina Oktaviani, Alex R. Nainggolan, Jimmy Maruli Alfian, Y. Wibowo, Inggit Putria Marga, Nersalya
Renata
dan Lupita
Lukman.
Selain itu ada cerpenis Dyah Merta dan M.
Arman AZ..
Leksikon Seniman Lampung (2005) menyebutkan
tidak kurang dari 36 penyair/sastrawan Lampung yang meramaikan lembar-lembar
sastra koran, jurnal dan majalah seantero negeri.
Teater
Perkembangan
teater di Lampung banyak dilatarbelakangi dari keinginan para pelajar dan
mahasiswa yang tergabung dalam kelompok seni untuk mendalami seni peran dan
pertunjukkan. Beberapa kelompok teater kampus dan pelajar yang masih tercatat
aktif sampai saat ini adalah teater Kurusetra (UKMBS Unila), KSS (FKIP Unila),
Green Teater (Umitra), Teater Biru (Darmajaya), Teater Kapuk (STAIN Metro),
Teater Sudirman 41 (SMAN 1 Bandar Lampung), Teater Gemma (SMAN 2 Bandar
Lampung), Teater Palapa (SMAN 3 Bandar Lampung), Teater Sanggar Madani(SMAN 5
Bandar Lampung), Teater Handayani (SMAN 7 Bandar Lampung), Kolastra (SMAN 9
Bandar Lampung), Teater Sebelas (SMAN 11 Bandar Lampung), Teater Pelopor (SMA Perintis
1 Bandar Lampung), Insyaallah Teater (SMU Perintis 2 Bandar Lampung), Teater
Cupido (SMAN 1 Sumberjaya).
Sedangkan
beberapa teater yang digerakkan seniman-seniman Lampung yaitu Teater Satu,
Komunitas Berkat Yakin (Kober), Teater Kuman, Teater Sendiri. Penggerak teater
di Lampung yang masih eksis mengembangkan seni pertunjukkan teater melalui
karya-karyanya antara lain Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat, Robi akbar, M.
Yunus, Edi Samudra Kertagama, Ahmad Jusmar, Imas Sobariah, Ahmad Zilalin,
Darmawan. Lampung tidak hanya dikenal banyak melahirkan sastrawan-sastrawan
baru namun aktor-aktor potensial pun juga tidak sedikit yang muncul seperti,
Rendie Dadang Yusliadi, Robi Akbar, Eyie, Iin Mutmainah, M Yunus, Dedi Nio,
Liza Mutiara Afriani, Iskandar GB, Ruth Marini.
Dalam
tiap tahunnya even-even teater seperti pertunjukan, lomba, workshop dan diskusi
kerap digelar di Provinsi ini serta tempat tempat yang sering digunakan adalah
Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Auditorium RRI, GSG UNILA, Academic
Centre STAIN Metro, Gedung PKM Unila, Aula FKIP Unila, Pasar Seni Enggal.
Adapun
even tahunan teater yang terbesar di Lampung adalah Liga Teater SLTA
se-Provinsi Lampung sebagai ajang apresiasi para aktor Pelajar Lampung yang
kualitasnya tidak kalah dengan pelajar di luar Lampung.
Musik
Sebagaimana
sebuah daerah, Lampung memiliki beraneka ragam jenis musik, mulai dari jenis
tradisional hingga modern (musik modern yang mengadopsi kebudayaan musik global).
Adapun jenis musik yang masih bertahan hingga sekarang adalah Klasik Lampung.
Jenis musik ini biasanya diiringi oleh alat musik gambus dan gitar akustik.
Mungkin jenis musik ini merupakan perpaduan budaya Islam dan budaya asli itu
sendiri. Beberapa kegiatan festival diadakan dengan tujuan untuk mengembangkan
budaya musik tradisional tanpa harus khawatir akan kehilangan jati diri.
Festival Krakatau, contohnya adalah
sebuah Festival yang diadakan oleh Pemda Lampung yang bertujuan untuk
mengenalkan Lampung kepada dunia luar dan sekaligus menjadi ajang promosi
pariwisata.
Tarian
Ada
berbagai jenis tarian yang merupakan aset budaya Provinsi Lampung. Salah satu
jenis tarian yang terkenal adalah Tari
Sembah
dan Tari
Melinting
(saat ini nama Tari Sembah sudah dibakukan menjadi Sigeh
Pengunten).
Ritual tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat lampung untuk menyambut
dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang, mungkin
bolehlah dikatakan sebagai sebuah tarian penyambutan. Selain sebagai ritual penyambutan,
tari sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan
masyarakan Lampung.
Busana Adat
Daerah
Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis, kain tenun bersulam benang emas
yang indah. Kain ini dibuat oleh wanita. Pada penyelenggaraan upacara adat,
seperti perkawinan, tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang
indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung.
Dalam
keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Bahannya dari
kain batik. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk
belanga dan kain. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung,
yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal,
apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Untuk mengiring pengantin dikenakan
kekat akkin, yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang
emas dan bagian tengah berhiaskan siger, serta di salah satu sudutnya terdapat
sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh.
Sebagai
penutup badan dikenakan kawai, yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh
atau jas. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih
disukai yang berwarna terang. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija,
yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Pemakaian kawai
kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci, ketika menghadiri upacara
adat sekalipun.
Bagian
bawah mengenakan senjang, yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Bugis
atau batik Jawa. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek
dan panjang sebagai penganti kain.
Kaum
wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup
kepala yang dililitkan. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Selain itu,
kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil.
Lawai
kurung digunakan sebagai penutup badan, memiliki bentuk seperti baju kurung.
Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan
biasa dihiasi rajutan renda halus. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol.
Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki
digunakan bebet (ikat pinggang), sedangkan wanitanya menggunakan setagen.
Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap, yaitu
kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di
leher. Pada waktu mandi di sungai, kain ini dipakai sebagai kain basahan.
Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan
untuk melakukan ibadah ke masjid.
Untuk
menghadiri upacara adat, seperti perkawinan kaum wanita, baik yang gadis maupun
yang sudah kawin, menyanggul rambutnya (belatung buwok). Cara menyanggul
seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan
rajutan benang hitam halus. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat
yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang).
Khusus
bagi wanita yang baru menikah, pada saat menghadiri upacara perkawinan
mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan
atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya.
Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah
sulam benang emas, yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Sulaman
benang emas ada yang dibuat berselang-seling, tetapi ada yang disulam hampir di
seluruh kain.
Para
ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis
bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan
kaca. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat, yaitu selendang sutra bersulam
benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. Selain itu, juga dapat
dikenakan selekap balak, yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif
pucuk rebung, di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung,
bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan.
Untuk
memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas.
Selambok/rattai galah, yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi
dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Kelai pungew, yaitu
gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri, biasanya memiliki bentuk seperti
badan ular (kalai ulai). Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari
emas, perak atau suasa diberi mata dari permata. Dikenakan pula kalai kukut,
yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat
dirangkaikan. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat
yang hidup di desa, kecuali saat pergi ke ladang.
Pakaian
mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang
dikenakan pengantin daerah Lampung. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat
warna kuning emas.
Di
kepala mempelai wanita bertengger siger, yaitu mahkota berbentuk seperti tanduk
dari lempengan kuningan yang ditatah hias bertitik-titik rangkaian bunga. Siger
ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan lekukan di depan dan di belakang
(siger tarub), yang setiap lekukannya diberi hiasan bunga cemara dari kuningan
(beringin tumbuh). Puncak siger diberi hiasan serenja bulan, yaitu kembang hias
berupa mahkota berjumlah satu sampai tiga buah. Mahkota kecil ini mempunyai
lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam-tajam pada bagian atas serta
berhiaskan bunga. Pada umumnya terbuat dari bahan kuningan yang ditatah.
Badan
mempelai dibungkus dengan sesapur, yaitu baju kurung bewarna putih atau baju
yang tidak berangkai pada sisinya dan di tepi bagian bawah berhias uang perak
yang digantungkan berangkai (rambai ringgit). Sebagai kainnya dikenakan kain
tapis dewo sanow (kain tapis dewasana) dipakai oleh wanita pada waktu upacara
besar (begawi) dari bahan katun bersulam emas dengan motif tumpal atau pucuk
rebung. Kain ini dibuat beralaskan benang emas, hingga tidak nampak kain
dasarnya. Bila kain dasarnya masih nampak disebut jung sarat. Jenis tapis
dewasana merupakan hasil tenunan sendiri, yang sekarang sangat jarang dibuat
lagi.
Pinggang
mempelai wanita dilingkari bulu serti, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari
kain beludru berlapis kain merah. Bagian atas ikat pinggang ini dijaitkan
kuningan yang digunting berbentuk bulat dan bertahtakan hiasan berupa bulatan
kecil-kecil. Di bawah bulu serti dikenakan pending, yaitu ikat pinggang dari
uang ringgitan Belanda dengan gambar ratu Wihelmina di bagian atas.
Pada
bagian dada tergantung mulan temanggal, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk
seperti tanduk tanpa motif, hanya bertatah dasar. Kemudian dinar, yaitu uang
Arab dari emas diberi peniti digantungkan pada sesapur, tepatnya di bagian atas
perut. Dikenakan pula buah jukum, yaitu hiasan berbentuk buah-buah kecil di
atas kain yang dirangkai menjadi untaian bunga dengan benang dijadikan kalung
panjang. Biasanya kalung ini dipakai melingkar mulai dari bahu ke bagian perut
sampai ke belakang.
Gelang
burung, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk burung bersayap yang diikatkan
pada lengan kiri dan kanan, tepatnya di bawah bahu. Di atasnya direkatkan bebe,
yaitu sulaman kain halus yang berlubang-lubang. Sementara gelang kana, terbuat
dari kuningan berukir dan gelang Arab, yang memiliki bentuk sedikit berbeda,
dikenakan bersama-sama di lengan atas dan bawah.
Mempelai
laki-laki mengenakan kopiyah mas sebagai mahkota. Bentuknya bulat ke atas
dengan ujung beruji tajam. Bahannya dari kuningan bertahtakan hiasan karangan
bunga. Badannya ditutup dengan sesapur warna putih berlengan panjang. Dipakai
celanou (celana) panjang dengan warna sama dengan warna baju.
Pada
pinggang dibalutkan tapis bersulam benang emas penuh diikat dengan pending.
Bagian dada dilibatkan membentuk silang limar, yaitu selendang dari sutra
disulam benang emas penuh. Lengan dihias dengan gelang burung dan gelang kana.
Perlengkapan lain yang menghiasi badan sama seperti yang dikenakan oleh
mempelai wanita. Kaki kedua mempelai dibungkus dengan selop beludru warna
hitam.
Rumah Adat
Rumah
tradisional adat Lampung, atau yang sering disebut Nuwo Sesat, memiliki ciri
khas seperti: berbentuk panggung, atap terbuat dari anyaman ilalang, terbuat
dari kayu dikarenakan untuk menghindari serangan hewan dan lebih kokoh bila
terjadi gempa bumi, karena masyarakat lampung telah mengenal gempa dari zaman
dahulu dan lampung terletak di pertemuan lempeng Asia dan Australia.
Kabupaten Lampung Tengah
Lambang
Kabupaten Lampung Tengah yang lama
Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Gunung
Sugih.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.189,50 km² dan berpenduduk sebanyak
1.109.884 jiwa (tahun 2004). Merupakan salah satu kabupaten yang terkurung
daratan/land lock di provinsi Lampung. Kabupaten ini
terletak sekitar 75 kilo meter dari ibukota provinsi Lampung yaitu Kota
Bandar Lampung
dan dapat ditempuh dari ibukota selama sekitar 1,5 jam dengan memakai Bus atau
Mobil.
Kabupaten
ini dulunya merupakan kabupaten terluas kedua di Lampung sampai dengan
diundangkannya Undang-undang Nomor 12 tahun 1999 yang memecah kabupaten ini
menjadi beberapa daerah lain sehingga luasnya menjadi lebih kecil [3].Kabupaten Lampung Tengah
dulunya meliputi Kabupaten
Lampung Tengah. Lampung Tengah dibagi atas Kabupaten
Lampung Timur,
dan Kota
Metro
[4]
Karena
sebelum tahun 1999 ibukota Lampung Tengah terletak di Metro yang dimekarkan
menjadi kota madya mandiri, maka dipindahkanlah pusat pemerintahan Lampung
Tengah
ke Gunung
Sugih.
Kabupaten
Lampung Tengah telah mengalami 2 kali pemekaran, sehingga wilayah yang semula
memiliki luas 16.233,21 km² dan sekarang luasnya sekitar 9.189,50 km².
Pemekaran wilayah yang pertama adalah Kabupaten
Lampung Timur
berdasarkan UU RI Nomor 12 Tahun 1999, sehingga Kabupaten ini berkurang 10
kecamatan yakni, Sukadana, Metro Kibang, Pekalongan, Way Jepara, Labuhan
Meringgai, Batanghari, Sekampung, Jabung, Purbolinggo, dan Raman Utara.
Pemekaran
kedua dengan terbentuknya Kota Madya Metro dengan disetujuinya
UU RI Nomor 12 Tahun 1999, yang dulunya dikenal sebaga ibukota Kabupaten
Lampung Tengah yang memiliki status sebagai Kota Administratif dan pada tahun
1999 statusnya ditingkatkan sebagai Kota Madya. Wilayah Lampung Tengah
mengalami pengurangan 5 Kecamatan yaitu, Metro Barat, Metro Utara, Metro Pusat,
Metro Selatan, dan Metro Timur. Saat itu Lampung Tengah hanya memiliki 13
Kecamatan yaitu, Gunung Sugih, Terbanggi Besar, Anak Tuha, Bumi Ratu Nuban,
Kota Gajah, Way Seputih, Bekri, Bandar Mataram, Anak Ratu Aji, Way Pengubuan,
Kalirejo, Trimurjo, dan Pubian.
Sejarah
Penduduk
Lampung Tengah terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu masyarakat pribumi dan
masyarakat pendatang. Masyarakat pribumi; warga penduduk asli yang sudah lama menetap
bahkan turun temurun mendiami tempat ini. Sedangkan masyarakat pendatang adalah
penduduk pendatang yang tinggal dan menetap di sini. Bila melihat
perkembangannya, pembauran masyarakat yang ada di Lampung Tengah secara garis
besar dikarenakan dulu adanya transmigrasi sejumlah kelompok masyarakat
terutama dari Pulau Jawa dan Bali.
Selama
dalam tahun 1952 sampai dengan 1970 pada objek-objek transmigrasi daerah
Lampung telah ditempatkan sebanyak 53.607 KK, dengan jumlah sebanyak 222.181
jiwa, tersebar pada 24 (dua puluh empat) objek dan terdiri dari 13
jenis/kategori transmigrasi. Untuk Kabupaten Lampung Tengah saja antara tahun
itu terdiri dari 4 (empat) objek, dengan jatah penempatan sebanyak 6.189 KK
atau sebanyak 26.538 jiwa.
Kampung
paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut
mayoritas Islam dan sebagian lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan,
Budha dan Hindu. Selain suku Jawa, di Kabupaten Lampung Tengah terdapat
masyarakat suku Sunda namun jumlahnya tak sebanyak
suku Jawa. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Mereka juga awalnya
adalah transmigran yang ditempatkan di beberapa kecamatan dalam wilayah
Kabupaten Lampung Tengah.
Masyarakat
dominan lain yang bermukim di Lampung Tengah adalah penduduk suku Bali. Sebagian besar
mendiami di beberapa kecamatan di wilayah timur dan sisanya berada di kecamatan
lain di Lampung Tengah. Agama yang di anut mayoritas memeluk agama Hindu-Bali.
Kampung-kampung Bali akan terasa bila saat berada di lingkungan setempat. Sama
halnya dengan masyarakat suku Jawa dan Sunda, masyarakat suku Bali bermula dari
transmigran yang ditempatkan di daerah ini. Penempatan itu terdiri dari
beberapa tahapan. Sehari-harinya, penduduk setempat mempergunakan bahasa Bali
sebagai penutur.
Transportasi
Letak
Kabupaten Lampung Tengah cukup strategis dalam konteks pengembangan wilayah.
Sebab selain dilintasi jalur lintas regional, baik yang menghubungkan antar
provinsi maupun antar kabupaten/kota di Provinsi Lampung, juga persimpangan
antara jalur Sumatera Selatan via Menggala dan jalur Sumatera Selatan serta
Bengkulu via Kotabumi. Bagian selatan jalur menuju ke Kota Bandar Lampung,
bagian timur menuju jalan ASEAN, Kabupaten Lampung Timur dan Kotamadya Metro.
Sementara bagian barat jalur menuju Kabupaten Lampung Utara dan
Daftar bupati Lampung Tengah
- Burhanuddin Amin (1945 – 1948)
- Zainabun Djajanegara (1948 – 1952)
- R Syahri Djajoyoabdinegoro (1952 – 1957)
- Syamsudin V Djajamarga (1958 – 1959)
- Mohfian Hasanuddin Carepeboka (1959 - 1960)
- Hasan Basri Darmawijaya (1961 – 1967)
- R. A. Oemar Kadir (1967 - 1972)
- Zainal Arifin Waluyo SH (1972 – 1973)
- S Prawinegara (1973 – 1978)
- R Soekirno (1978 – 1985)
- H Subekti Jayanegara (PLH, 1985)
- Drs.Suwardi Ramli (1985 – 1995)
- Drs.Herman Sanusi (1995 – 2000)
- Drs. H. Andy Achmad Sampurna Jaya, M.Si (2000 - 2009)
- H. A. Pairin, S.Sos (2009 - sekarang)
2.
Memiliki misi
mengembangkan desa











Kolam renang Telaga Putri ....... Semakin di depan.....
BalasHapus